Jumat, 12 Juli 2013

Paham Humanisme

Kata "humanisme" adalah salah satu istilah dalam sejarah intelektual yang sering digunakan dalam berbagai bidang, khususnya filsafat, pendidikan, dan literatur. Kenyataan ini menjelaskan berbagai macam makna yang dimiliki oleh, atau diberikan kepada istilah ini. Meskipun berbagai pandangan mengenai humanisme memang memiliki unsur-unsur kesamaan yang berkaitan dengan konsern dan nilai-nilai kemanusiaan dan yang biasanya dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, makna-makna yang diberikan kepada istilah ini juga memiliki nuansa yang sangat berbeda, tergantung pada kepentingan dan proyek-proyek yang direncanakan dan diajukan.



Bahkan dalam bidang tertentu seperti filsafat, konsep "humanisme" juga mengalami berbagai perubahan makna ketika dipakai oleh para filsuf dalam periode historis yang berbeda. Misalnya, dalam zaman Pencerahan (Enlightenment), yang ditandai dengan usaha untuk melepaskan diri dari paham tradisional bahwa manusia hanya bisa dipahami dalam konteks tatanan ilahi dan iman, paham humanisme menunjuk kepada proyek membangun kehidupan manusia dan masyarakat menurut tatanan dan aturan akal budi.


Proyek Pencerahan ini mencakup juga analisis mengenai kemampuan manusia untuk memahami realitas, yakni melalui akal budi (reason), seperti yang dilakukan oleh Immanuel Kant. Humanisme Jean-Paul Sartre dalam pertengahan abad kedua puluh memiliki makna yang lain lagi karena ia menolak eksistensi kodrat manusia yang secara tradisional dipandang sebagai yang bersifat objektif dan permanen. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Pendek kata, kita perlu berhati-hati dalam menggunakan istilah "humanisme" karena kata ini sering kali memiliki makna yang berbeda tergantung pada konteks historisnya.


Perhatian yang saksama terhadap berbagai penggunaan istilah "huma-nisme" menjadi sangat penting dalam konteks ini karena berkaitan langsung dengan topik utama, yakni debat antara kaum skolastik dan humanis dalam abad keenam belas. Sejumlah ahli sejarah Abad Pertengahan seperti R.W. Southern menggunakan istilah ini untuk menggambarkan hakikat proyek kaum skolastik pada permulaan abad kedua belas, yang kemudian disebutnya sebagai humanisme skolastik.


Ciri khas humanisme skolastik, menurut Southern, adalah penekanan pada martabat kodrat manusia yang membuat manusia dapat memahami realitas, pengunaan metode introspeksi sebagai alat penyelidikan, serta usaha untuk menjalin persahabatan, baik yang bersifat manusiawi maupun ilahi. Semuanya ini akhirnya mengarah kepada pembentukan sebuah pandangan sistematis mengenai dunia dan relasinya dengan Allah." Penempatan dan penggunaan begitu saja minat dan proyek humanistik dari kaum skolastik dalam debat mereka dengan kaum humanis dalam abad keenam belas, tentu hanya akan menimbulkan kebingungan bagi para pembaca.


Konsep "humanisme" yang digunakan dalam artikel ini menyangkut gerakan sastra tertulis (literary movement) yang muncul pertama kali di Italia dan kemudian berkembang di Eropa Utara dalam zaman Renaissance.' Di sini penulis menggunakan pandangan Paul Oskar Kristeller mengenai humanisme, yakni gerakan budaya dan sastra tertulis yang menekankan dan mengembangkan studi literatur klasik. Karra-karya para pengarang klasik, baik yang berbahasa Latin maupun Yunani, merupakan titik perhatian utama para humanis Renaissance. Gerakan ini merupakan bagian dari tradisi retorika yang berkembang cukup lama dalam peradaban Barat sejak zaman klasik.


Humanisme ini pada dasarnya memandang peradaban klasik sebagai tolok ukur standar dan model dalam menuntun segala macam kegiatan budaya. Kecenderungan untuk menghubungkan dan bahkan menyamakan humanisme Renaissance dengan filsafat telah menjadi bagian dari historiografi gerakan tersebut. Baik Georg Voight dalam Me Revival of Classical Antiquity or the First Century of Humanism (1859) maupun, lebih signifikan lagi, Jacob Burckhardt dalam He Civilization of the Renaissance in Italy (1860) berpandangan bahwa Renaissance Italia menciptakan sebuah 'kepribadian bebas'yang baru (a new free personality) yang sangat rindu akan kemashyuran dan yang mengambil sikap yang bersifat naturalistik terhadap dunia. Burckhardt menyebut manusia baru ini 'individu rohani' (a spiritual individual).


Maksudnya adalah, orang yang berpusat pada dirinya sendiri, yang mengklaim otonomi moral atau emansipasi dart tolok ukur tradisional dan otoritas politik, atau orang yang selalu mencoba mengungkapkan kepribadiannva secara penuh. Dalam historiografi humanisme Renaissance sesudah Burckhardt terjadi sejumlah pengembangan, koreksi, dan kualifikasi atas pandangan ini.


Pada awal abad kedua puluh Wilhelm Dilthey, Giovanni Gentile, dan Ernst Cassirer, menafsirkan humanisme sebagai sebuah filsafat nilai-nilai kemanusiaan, khususnva nilai-nilai individualisme, sekularisme, dan otonomi moral, seperti sudah diidentifikasi oleh Burckhardt.' Implikasi dart pandangan ini adalah bahwa humanisme itu pada hakikatnya bertentangan dengan agama Kristen yang dianut banyak orang di negara-negara tempat humanisme berkembang. Demikian juga humanisme pun mulai dipandang sebagai paham yang mendorong berkembangnya sekularisme modern.


Akan tetapi, penemuan atas adanva "semangat" Renaissance bahkan dalam Abad Pertengahan yang mendahului era Renaissance, khususnya oleh Ernst Walser dan Guiseppe Toffanin, telah mempertanyakan pandangan di atas. Keduanya berpendapat bahwa humanisme sama sekali tidak bertentangan dengan agama Kristen; kalaupun ada pertentangan, musuhnya adalah paham skolastik (scholasthism) atau sains Aristotelian Abad Pertengahan."


Yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka menunjuk pada ciri khas sastra tulisan (literao) dan humanisme, yang telah dikembangkan secara mengagumkan oleh Paul Oskar Kristeller dalam studi komprehensifnya mengenai gerakan tersebut. Gambaran dan definisi Kristeller mengenai hakikat dan pengaruh budaya humanisme Renaissance, seperti digunakan dalam buku ini, secara praktis merupakan paradigma yang paling diterima secara luas dalam studi-studi mengenai humanisme dewasa ini.


Untuk memahami humanisme Renaissance sebagai sebuah gerakan kerer dan berwawasan pendidikan, kita perlu mengetahui asal mula istilah "humanisme" itu sendiri. Kata ini telah mengalami proses penafsiran dan penurunan kata yang cukup panjang, yang bisa ditelusuri sampai pada awal zaman Renaissance di akhir abad keempat belas dan kelima belas. Ada tiga istilah, yang berkaitan satu sama lain, yang perlu dipahami untuk memahami proses tersebut.


Pertama, kata "humanismus", diciptakan pada tahun 1808 oleh ahli pendidikan Jerman, F.J. Niethammer, untuk menunjuk pada tekanan pengajaran yang diberikan pada karya-karya klasik berbahasa Latin dan Yunani di sekolah-sekolah menengah yang dilawankan dengan tuntutan yang semakin meluas terhadap pendidikan yang lebih bersifat praktis dan berorientasi pada ilmu pengetahuan atau sains.


Banyak sejarawan abad kesembilan belas menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada para pakar Renaissance yang juga mendukung secara aktif penciptaan kurikulum yang menekankan pendidikan dan pengajaran berdasarkan karya-karya klasik.


Istilah human:limits ini sendiri diturunkan dari istilah kedua, humanista, yang diciptakan pada puncak kejayaan zaman Renaissance untuk menunjuk pada para profesor humanisme di universitas-universitas Italia. Kata "humanista" sendiri diturunkan dari sebuah istilah yang lebih tua lagi, ini istilah ketiga, yakni humanities atau stadia humanitatis, yang dipakai untuk menunjuk pada pendidikan liberal am dengan menggunakan karya-karya pengarang Romawi klasik seperti Cicero dan Genius."


Pada pertengahan pertama abad kelima belas, istilah stadia humanitatis dipakai untuk menunjuk pada bidang-bidang studi yang berbeda-beda, yakni, tata bahasa, retorika, sejarah, puisi, dan filsafat moral. Studi dalam bidang-bidang ini biasanya dilakukan dengan membaca dan menafsirkan karya-karya pengarang klasik yang cukup standar, khususnya yang berbahasa Latin dan sedikit banyak dalam bahasa Yunani."


Dengan demikian, jelaslah bahwa humanisme Renaissance bukanlah sebuah sistem filosofis, meskipun gerakan ini memiliki sejumlah paham filosofis tersendiri. Kurikulum humanisme hanva mencakup satu bidang filsafat, yakni filsafat moral. Kaum humanis, sekurang-kurangnya di Italia atau sebelum abad kelima belas, tidak mengajukan klaim bahwa mereka sedang mengganti sistem pendidikan Abaci Pertengahan dengan metode mereka sendiri.


Meskipun kecenderungan mereka untuk menekankan betapa pentingnya pendidikan humanisme itu sering kali membawa mereka masuk ke wilayah ilmu-ilmu lain, para humanis pada umumnya menyadari keterbatasan ruang yang mereka miliki di dalam sistem pendidikan saat itu dan oleh karenanya, tidak mengingkari kesahihan ilmu-ilmu Klaim bahwa humanisme Renaissance pada hakikatnya adalah sebuah program budaya dan bercorak pendidikan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengaburkan fakta bahwa sejumlah humanis mendalami studi filsafat secara serius.


Penghidupan dan penemuan kembali karya-karya klasik dalam zaman itu memungkinkan mereka untuk berkenalan dengan karya-karya filsuf Yunani, khususnya yang ditulis oleh Plato, yang sebagian merupakan terjemahan dan komentar atas buku-buku tertentu.


Francesco Petrarch memperlawankan pandangan Plato dengan otoritas Aristoteles dan menyerang naturalisme dan minat sientifik dan para pengikut filsuf Islam Ibn Rushd (Averroes), meskipun Petrarch sendiri tidak tahu banyak mengenai filsafat Plato, tetapi cukup mengenal pandangan Agustinus yang sangat dipengaruhi oleh pandangan Plato dan neo-Platonisme. Marcilio Ficino (1433— 1499) yang dipengaruhi secara kuat oleh Platonisme dan merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya-karya Plato ke dalam bahasa Latin, menerbitkan sebuah karya epistemologis berjudul 'Lima Pertanyaan Mengenai Akal budi' (Five Questions Concerning the Mind).


Dalam zaman Renaissance Italia kita dapatkan juga Aristotelianisme yang bercorak humanistik dalam karya Pietro Pomponazzi (1462-1525) dan Jacopo Zabarella (1533— 1589). Singkatnya, minat para humanis terhadap filsafat hanyalah bersifat sekunder dan pada umumnya terbatas pada bidang etika.


Dibandingkan dengan banyaknya karya mereka yang lain berupa terjemahan, komentar atas karya pengarang klasik, puisi, pidato, surat-surat serta karya-karya yang menyangkut sejarah, tata bahasa dan retorika yang mereka tulis, buku-buku dan dialog mengenai moralitas yang mereka susun menjadi kurang penting.



Pustaka - Paham Humanisme


Pustaka Filsafat HUMANISME DAN SKOLASTISISME, Sebuah Debat Oleh Thomas Hidya Tjaya


Foto / Gambar
lembaranepul

0 comments:

Poskan Komentar