Rabu, 05 Juni 2013

PERIODONTITIS (PENYAKIT PERIODONTAL)

Periodontitis adalah penyakit inflamasi periodontum, yang menyebabkan kerusakan ligamentum periodontal. Periodontum adalah nama kolektif yang diberikan bagi jaringan yang menunjang gigi dan terdiri dari gingiva, ligamentum periodontal, sementum, dan tulang alveolar di sekitarnya.


Pada orang dewasa, penyakit periodontal yang kronik dan destruktif lebih sering menjadi penyebab tanggalnya gigi dibandingkan karies dentis, khususnya pada manula. Namun, prevalensi dan insidensi penyakit periodontal juga tampak menurun di Amerika Serikat. Bentuk penyakit periodontal yang paling sering ditemukan dimulai sebagai inflamasi pada gingiva marginal (gingivitis) yang tidak terasa nyeri, kendati gingiva dapat berdarah ketika posisi menyikat giginya. Penyakit tersebut dapat menyebar hingga mengenai ligamentum periodontal dan tulang al veolaris.



Mengingat keadaan yang disebutkan terakhir ini akan diserap secara perlahan-lahan, pelekatan ligamentum periodontal antara gigi dan tulang akan menghilang. Jaringan lunak akan terlepas dari permukaan gigi sehingga terbentuk "kantong" dengan perdarahan ketika disonde atau pada saat mengunyah makanan. Inflamasi akut dapat menutupi proses yang kronik ini dengan timbulnya pus dan terbentuknya abses periodontal. Akhirnya, hilangnya tulang secara ekstrim mobilitas gigi dan pembentukan abses rekuren menyebabkan eksfoliasi gigi atau dapat diperintahkan untuk ekstraksi gigi.


Gingivitis dan periodontitis merupakan infeksi yang menyertai penumpukan plak bakteri dan kemudian mengalami mineralisasi (kalkulus): keadaan ini dapat dicegah dengan mempertahankan higiene oral yang tepat, termasuk tindakan menyikat gigi, pemakaian dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi, kumur mulut dengan larutan antibakterial dan pengangkatan sisa-sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi.


Penggunaan gigi palsu yang jelek atau kurang pas dapat menimbulkan infeksi tersebut melalui bagian tepinya yang terlalu menonjol atau tidak sesuai, sementara peranan trauma oklusal Masih belum jelas. Tetapi pada keadaan ini ditujukan untuk mengatasi mikroflora penyebabnya dan terdiri atas pengangkatan plak serta kalkulus, debridement dinding kantong serta bagian semen yang lapisan superfisialnya terinfeksi, dan penanganan untuk menghilangkan faktor penyebab lainnya.


Infeksi bakteri periapikal serta periodontal dapat menyebabkan bakteremia sepintas setelah pencabutan gigi dan bahkan sesudah tindakan profilaksis dental yang rutin. Keadaan ini dapat menimbulkan endokarditis bakterialis pada pasien-pasien dengan riwayat demam rematik, penyakit valvuler lainnya, pencangkokan katup jantung atau penggunaan prostesis jantung atau sendi. Pemberian antibiotik sebagai terapi profilaksis merupakan tindakan yang tepat untuk kasus-kasus semacam ini.


Penyakit periodontal tampaknya menjadi suatu grup kondisi, yang termasuk periodontitis dewasa, disertai dengan Porhyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, dan organisme gram negatif lain. Periodontitis juvenil lokalisata (LJP) menyebabkan hilangnya tulang dan pocketing berat, cepat dan disertai dengan Actinobasillus actinomycetemcomitans (A.a), Capnorytophaga, Eikenella corrodens dan anaerob lain. Gingivitis ulseratif nekrotikans akut (ANUG) mengenai peradangan gingiva yang tiba-tiba dengan nekrosis, hilangnya jaringan, nyeri, perdarahan, dan halitosis dan disertai dengan P. intermedia dan spiroketa.


ANUG dan bentuk periodontitis cepat dan agresif (HIV-P) terlihat dalam hubungannya dengan infeksi virus defisiensi imun manusia (HIV). Beberapa kasus ini berkembang menjadi lesi seperti gangren destruktif dari jaringan lunak mulut dan tulang (stontatitis nekmtikans) menyerupai noma yang sebelumnya terlihat pada populasi yang salah makan. Terapi melibatkan ukuran antibakteri lokal, debridemen, dan pada kasus yang berat, antibiotik sistemik efektif melawan anaerob gram negatif.


Faktor pejamu dapat dilibatkan dalam patogenesis penyakit periodontal dalam populasi lain juga. Sehingga, defek familial pada kemotaksis neutrofil ditemukan pada LJP, dan ini mungkin merupakan predisposisi terhadap penghancuran jaringan yang disebabkan oleh toksin A.a, yang termasuk leukotoksin, kolagenase, endotoksin dan suatu faktor yang selanjutnya menghambat kemotaksis neutrofik. Pasien dengan defisiensi IgA dan agammaglobulinemia mungkin kurang menderita penyakit periodontal dibandingkan dengan individu sehat yang dicocokkan, sedangkan pada sindroma Down dan diabetes melitus, penyakit periodontal yang berat mungkin terjadi.


Selama kehamilan, terdapat gingivitis yang berat dan pembentukan granuloma piogenik lokalisata. Obat-obat tertentu, khususnya fenitoin antikonvulsan dan antiangina penghambat nifedipin hemat kalsium, menyebabkan hiperplasia fibrosa gusi yang dapat menutup gigi, bercampur dengan makan, dan menjadi tak sedap. Gambaran klinis yang serupa dapat disebabkan oleh idiopathic familial gingival fibromatosis. Penatalaksanaan pembedahan digunakan untuk kedua kondisi, meskipun suatu perubahan pada pengobatan mungkin sesuai untuk bentuk yang diinduksi obat.


infeksi bakteri periapikal dan periodontal dapat menyebabkan bakteremia selintas setelah pencabutan gigi. bahkan tindakan profilaksis gigi rutin. Hal ini dapat menimbulkan endokarditis bakterialis pada pasien yang mempunyai riwayat demam rematik, kelainan katup lainnya, cangkok katup jantung, atau jantung, atau penggunaan protesa sendi. Gunakan antibiotik untuk kasus-kasus seperti ini.



Pustaka - PERIODONTITIS (PENYAKIT PERIODONTAL)


- Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam Oleh Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- Ensiklopedia Keperawatan Oleh Chris Brooker


Foto / Gambar
puskesmasjuwana

0 comments:

Poskan Komentar