Jumat, 14 Juni 2013

Pengertian Tarekat (Thariqah)

Tarekat adalah sebuah istilah yang diturunkan dari ayat Alquran surah al-Jinn ayat 16: "Dan seandainya mereka menempuh jalan lurus mengikuti jalan (thariqah) yang telah ditetapkan, niscaya Aku akan memberi mereka minum dengan air yang paling jernih."


Arti thariqah dalam ayat tersebut dijelaskan lebih jauh dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang di dalamnya Nabi saw menyuruh umatnya untuk mengikuti sunah beliau dan sunah para sahabatnya. Kedua kata itu, sunnah dan thariqah, memiliki makna yang sama, yaitu "jalan". Jadi, istilah thariqah dapat diterapkan pada berbagai kelompok orang yang mengikuti mazhab pemikiran yang dikembangkan oleh seorang alim atau syekh tertentu.



Meskipun para syekh menerapkan metode pembinaan yang berbeda-beda, tujuan mereka sama saja. Situasinya mirip dengan apa yang terjadi pada institusi pengobatan atau hukum di zaman sekarang. Pendekatan yang dipergunakan setiap universitas mungkin saja berbeda-beda, tetapi muatan hukum atau praktik pengobatannya sama saja. Ketika seorang mahasiswa lulus dari salah satu fakultas, ia akan menunjukkan karakter khas almamaternya.


Dengan cara yang sama, murid seorang syekh tertentu akan menunjukkan ciri khas ajaran dan karakter syekh tersebut. Karena itu, setiap mazhab sufi memiliki nama yang berbeda-beda sesuai dengan nama dan perspektif pendirinya. Keragaman ini semakin kentara pada berbagai ibadah tambahan, yang dikenal dengan sebutan awrad, ahzab, atau adzkár, yang dipergunakan sebagai metodologi praktis dalam pembinaan rohani. Meski demikian, perbedaan itu tidak menyentuh prinsip-prinsip agama. Dari segi prinsip, mazhab-mazhab sufi ini sama saja, sebagaimana mazhab-mazhab fikih yang bersumber dari hakikat yang sama meski metodenya berbeda-beda.


Metode sufi yang ditempuh para salik menuju Allah merupakan suatu rancangan perjalanan yang telah diasah dengan baik yang memetakan rangkaian kemajuan lahir dan batin dalam keimanan dan amaliah. Metode itu mengikuti sunah para sahabat Nabi saw., termasuk ahlushuffah (para penghuni serambi masjid). Mereka hidup secara berkelompok di sudut-sudut ruangan (zawiyah), pinggiran-pingiran sekolah (ribath), dan di pondokan (khaniqah). Di sana, mereka berkumpul secara reguler dan dalam kesempatan-kesempatan khusus, seperti di hari-hari besar (`id) umat Islam.


Banyak pola kegiatan semacam ini yang berkembang menjadi lembaga pendidikan yang sangat terkenal. Sebagai contoh, ada dua ribath yang didirikan oleh seorang sufi, Abdullah ibn al-Mubarak, di Merv yang bertahan cukup lama, begitu pula Khaniqah Baibarsiyyah di Kairo, sekolah sufi lainnya yang dipimpin oleh ulama besar ahli hadis Ibn Hajar al-Atsqalani. Selain menjadi guru besar di sana, is juga memangku jabatan sebagai Kadi Siria dan Mesir selama empat puluh tahun terakhir masa hidupnya.


Para pengikut sufi juga bergabung dalam berbagai kelompok non-formal yang disebut shuhbah di sekitar seorang syekh serta di majelis-majelis zikir dan pembacaan Asma Allah yang diwarisi dari tradisi Nabi saw. Selain berzikir, mereka berhimpun di sekeliling seorang syekh untuk mendengarkan dakwah dan nasihat (wi'azh). Para syekh mengajar murid-muridnya agar giat mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa dari hasrat rendah yang didorong hawa nafsu, serta untuk meluruskan keyakinan yang salah.


Semua ini dilaksanakan dengan mengikuti sunah Nabi saw. Metode zikir yang mereka tanamkan kepada para salik itu sama persis dengan metode yang diajarkan oleh Nabi saw. Dengan cara inilah para syekh mengajarkan perilaku yang lurus, baik melalui lisan maupun perbuatan, dan mendorong kaum beriman untuk menaati Allah sepenuh hati. Tujuan usaha keras mereka ini tidak lain adalah mencari rida Allah dan membangkitkan cinta kepada Nabi saw. Tegasnya, mereka berusaha mencapai maqam rida kepada Allah dan Allah rida kepada mereka.


Karena itu, para syekh menjadi mercusuar yang menghalau kegelapan dari jalan yang ditempuh kaum beriman, dan membangun landasan yang kokoh bagi pembangunan sebuah masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat yang rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri, serta menjadikan hal itu sebagai ciri khas perjuangan mereka. Nilai-nilai ini lambat laun mengilhami lahirnya suatu masyarakat Islam yang ideal. Ribath dan khanaqah, misalnya, lebih banyak berdiri di tengah-tengah kaum fakir dan miskin sehingga keberadaan mereka menjadi obat bagi banyak penyakit sosial.


Dari sisi pembinaan sosial, pengajaran dan pembinaan semacam ini sangat bermanfaat. Misalnya, banyak murid sufi, yang setelah lulus mengikuti pelajaran dari guru mereka, sepenuhnya diberdayakan untuk meringankan beban orang lain dan berusaha keras untuk menerangi jalan menuju kebenaran. Selanjutnya, melalui pelatihan dan disiplin diri, mereka mengukuhkan tekad untuk menjadi pribadi yang berguna. Para ulama dan guru tarekat yang sejati berusaha melaksanakan "jihad'" sebuah kata yang berarti perjuangan fisik melawan kaum kafir sekaligus perjuangan rohani melawan nafsu-tak-karat-mata yang menjerat jiwa.



Pustaka - Pengertian Tarekat (Thariqah)


Tasawuf Dan Ihsan Oleh Syekh M. Hisyam Kabbani


Foto/Gambar
syiahali

0 comments:

Poskan Komentar