Sabtu, 08 Juni 2013

PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL

Nouve Rome, Constantinoupolis, atau Konstantinopel, merupakan salah satu kota terpenting di dunia. Kota yang dikelilingi tembok-tembok besar dan kokoh sebagai benteng ini dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Byzantium yaitu Constantine I. Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Sejak didirikan, pemerintah Byzantium telah menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan.


Sebagai salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmarah, dan Tanjung Emas (Golden Horn) yang dijaga dengan rantai sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya.


Dengan demikian, dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Napoleon Bonaparte pernah mengilustrasikannya dengan "... kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!"


Banyak bangsa mengincar kota ini untuk dikuasai, di antaranya bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazah, Arab- Muslim, dan Pasukan Salib, meskipun mini awalnya adalah menguasai Yerusalem. Arab-Muslim pun terdorong ingin menguasai Byzantium karena nilai strategisnya.



Kepemimpinan Sultan Muhammad II
Banyak serangan yang dilancarkan para tentara Islam untuk menaklukkan Konstantinopel selama 800 tahun. Usaha pertama untuk menaklukkan Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H/ 654 M.


Pada masa itu, pemerintahan Utsman bin Affan mengirim Muawiyah bin Abu Sofyan dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan kokohnya pertahanan Konstantinopel.


Demikian juga seterusnya, hingga pada masa pemerintahan Sultan Murad II, beberapa kali usaha dilakukan demi merebut kota yang menurut kepercayaan mereka akan bisa ditaklukkannya.


Adalah Sultan Muhammad II, putera Sultan Murad II yang melanjutkan penaklukan Konstantinopel. Berbeda dengan usaha-usaha para pendahulunya, ia memperkuat kekuatan militer dari segi kuantitas hingga mencapai 250.000 personil. Selain itu, Sultan juga memperkuat armada laut Utsmani sebanyak 400 unit, mengingat Konstantinopel adalah sebuah kota laut, yang tidak mungkin bisa dikepung kecuali dengan menggunakan armada laut.


Tak ingin mengulangi kesalahan para pendahulunya, Sultan mempersiapkan strategi perangnya lebih matang. Salah satunya membangun Benteng Romali Hisyar di wilayah selatan Eropa di Selat Bosphorus, tepatnya pada sebuah titik paling strategis yang berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun pendahulunya yaitu Sulthan Bayazid di daratan Asia. Ia juga menyiapkan meriam-meriam berukuran sangat besar dalam penaklukan kali ini.


Sebelum serangan dilancarkan, Sultan Muhammad II mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang berbatasan langsung dengan Konstantinopel, di antaranya ialah perjanjian yang dibuat dengan kerajaan Galata yang bersebelahan dengan Byzantium. Ini merupakan strategi yang penting supaya seluruh tenaga dapat difokuskan kepada musuh yang satu tanpa ada ancaman lain yang tidak terduga.



Pada tanggal 6 April 1453 M, Sultan Muhammad II sampai di pintu gerbang Konstantinopel. Bersama gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin, dan tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha, mereka mulai menelusup dari berbagai penjuru kota.


Sebagai ahli strategi perang, Muhammad II membagi angkatan daratnya menjadi tiga lapis. Garda depan adalah pasukan infanteri dan yanisari. Sedangkan lapisan dua dan tiga adalah pendukung. Sebagian mereka adalah pasukan artileri. Sementara Angkatan Laut disiagakan sebanyak 400 kapal perang, dengan dengan meriam Orbannya.


Pertempuran akhirnya dimulai, tapi pertahanan Konstantinopel terlalu kuat untuk ditembus. Di Tanjung Emas, kapal-kapal perang Turki Ottoman mulai karam menabrak rantai-rantai besi yang dipasang mengelilingi Konstantinopel. Angkatan laut Ottoman berusaha keras mematahkan rantai-rantai tersebut, namun tidak berhasil.


Situasi semakin buruk dengan datangnya bala bantuan Byzantium dari angkatan laut negara-negara Eropa Barat. Angkatan laut Turki Ottoman semakin terdesak. Dalam kondisi pelik itu, Muhammad II mengganti panglima lautnya, Palta Oglu diganti oleh Laksamana Hamzah Pasha.


Dengan segata kekuatan, pasukan Turki Ottoman berhasil menghancurkan benteng pertahanan Konstantinopel yang berada di Lembah Lycos. Kaisar Konstantin melakukan penawaran dengan memberikan daerah-daerah jajahan lain kepada Ottoman sebagai ganti Konstantinopel, tapi Muhammad menolak, sebaliknya ia menawarkan perlindungan bagi seluruh warga Byzantium, termasuk kepada Konstantin sendiri.


Selama satu bulan penyerangan belum ada hasil yang dicapai. Namun menjelang berakhirnya bulan purnama, Sultan mendapat ide untuk menarik kapal-kapal perangnya ke daratan. Awalnya, ide ini dijalankan setengah hat ioleh para prajurit, mereka menganggap Sultan telah gila karena tidak berhasil melakukan serangan laut.


Namun sultan menjelaskan, selama ini kekuatan prajurit Konstantinopel berasal dari keyakinan akan adanya kekuatan bulan purnama. Dan saat itu, bulan purnama telah lewat. Kapal-kapal mulai ditarik dengan menggunakan kayu gelondongan.


Malam harinya, dengan diterangi bintang-bintang, kapal-kapal itu berlayar di daratan melintasi lembah dan bukit. Pagi harinya, 70 kapal perang yang tersisa telah berpindah lokasi melintasi Tanjung Emas, Besiktas dan Galata. Rakyat Byzantium yang menyaksikan kapal-kapal berlayar di daratan begitu terkejut. Mereka mengira itu karena bantuan jin atau setan, sebagian dari mereka menggosok-gosok mata, mencubit pipi, untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.


Tepat pada tanggal 29 Mei 1453 M, Konstantinopel jatuh dan berhasil ditaklukkan para tentara Islam. Pada hari itu, mayoritas penduduk Kostantinopel bersembunyi di gereja-gereja sekitar kota. Sultan Muhammad II berpesan kepada tentaranya supaya berbuat baik kepada penduduk Kostantinopel.


Sultan kemudian menuju ke Gereja Aya Sofya yang ketika itu menjadi tempat perlindungan sejumlah besar penduduk kota.



Ketakutan jelas terbayang di wajah masing-masing penduduk ketika Sultan menghampiri pintu gereja. Salah seorang pendeta telah membuka pintu gereja, dan Sultan meminta beliau supaya menenangkan penduduk.



Pada hari Jumat itu, Sultan Muhammad II bersama para muslimin tengah mendirikan shalat Jumat di Masjid Aya Sofya. Khutbah yang pertama di Aya Sofya itu disampaikan oleh Asy-Syeikh Ak Semsettin. Nama Kostantinopel kemudian diganti "Islam Bol/Islambul", yang berarti "Kota Islam" dan kemudian dijadikan sebagai ibukota ketiga Khilafah Utmaniyyah setelah Bursa dan Edirne.


Atas jasanya Sultan Muhammad II diberi gelar Al-Fatih (penakluk), sehingga ia sering dipanggil Sultan Muhammad al Fatih. Pertempuran merebut kota Konstantinopel berlangsung dari tanggal 6 April hingga 29 Mei 1453, atau hampir dua bulan.


Kesultanan Utsmaniyah
Kesultanan Utsmaniyah (1299-1923), atau dikenal juga dengan sebutan Kekaisaran Turki Ottoman merupakan negara multi-etnis dan multi-religi. Dalam perkembangan negara ini diteruskan oleh Republik Turki yang diproklamirkan pada 29 Oktober 1923.


Negara ini didirikan oleh Bani Utsman, yang selama lebih dari enam abad kekuasaannya (1299-1923) dipimpin oleh 36 orang sultan, sebelum akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara kecil.


Kesultanan ini menjadi pusat interaksi antara barat dengan timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 provinsi. Dengan Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya, kesultanan ini dianggap sebagai penerus dari kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Kekaisaran Romawi dan Byzantium. Pada abad 16 dan 17, Kesultanan Utsmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang kuat.



Pustaka - PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL


Perang Perang Paling Berpengaruh Didunia Oleh Akhmad Iqbal


Foto / Gambar
Perang Perang Paling Berpengaruh Didunia Oleh Akhmad Iqbal

0 comments:

Poskan Komentar