Rabu, 29 Mei 2013

PENANGANAN KERACUNAN MAKANAN

Secara umum, penanganan keracunan makanan dibagi menjadi dua tahap, yaitu upaya penyelamatan jiwa (life-saving) dan perbaikan gejala. Dehidrasi diatasi sambil menghentikan muntah serta diare. Pemberian cairan rehidrasi bukan sekedar mengganti cairan yang telah/sedang hilang, tetapi juga mengompensasi defisit elektrolit (natrium, kalium, klorida, magnesium) yang terbawa bersama muntahan dan diare Jika pasien diyakini telah termakan racun tertentu (dari jamur atau ikan), pembilasan lambung dan pemberian arang aktif merupakan langkah penanganan pertama.


 

Cairan Rehidrasi Oral (CRO) yang layak digunakan sebaiknya mengacu pada rekomendasi WHO: dalam 1 liter mengandung 3,5 g NaCI; 2,5 g, NaHCO3; 1,5 g KCI; dan 20 g glukosa. Dalam keadaan darurat, jika sediaan CRO tersebut tidak tersedia, pasien diajarkan membuat sendiri CRO.


Sayangnya, cairan rehidrasi oral bukan tanpa kelemahan. Pemberian CRO tak akan berhasil bila diare mengalir lebih dari 15 cc/kgBB/jam atau bila pasien menderita gangguan penyerapan glukosa (glucose malabsorption). Pada keadaan ini, volume diare justru membesar, tinja berisi banyak glukosa, yang selanjutnya memperparah keadaan yang telah buruk. Selain itu, masih ada faktor lain yang menyekat daya kerja CRO. Faktor tersebut adalah ketidakmampuan minum, ileus paralitik, atau distensi perut. Rehidrasi intravena merupakan alternatif, seandainya CRO tak dapat diandalkan.


Pemberian cairan melalui infus menjadi penanganan wajib apabila tanda dehidrasi berat dengan diare dan/atau muntah yang membandel tak tampak jelas sebagai pengoreksi syok. Ringer laktat (RL) merupakan cairan infus terpilih dalam kasus ini. Normal saline, half-strength Darrow's solution, dan half normal saline merupakan pilihan kedua sebagai pengganti bila RL tidak tersedia.


TERAPI MEDIKAMENTOSA
Obat-obat yang lazim digunakan adalah antidiare (adsorben, antisekretori, dan andperistaltik), antibiotik, andtoksin (menetralkan toksin botulism), antihistamin, kortikosteroid, fiadrenergic agonist, simpatomimetik, dan atropin. Selain itu, untuk menghilangkan (sumber) toksin yang masih berada dalam lambung, sirup ipekak atau apomorfin digunakan. Pada kasus keracunan oleh ikan famili ciguatera (belum ada literatur yang memberitakan kehadiran ikan jenis ini di perairan Indonesia), gunakan manitol dan arnitriptilin digunakan sebagai pereda gejala neurologis.


Penggunaan adsorben bertujuan membantu pasien mengentalkan tinja, yang diharapkan dapat mengurangi frekuensi defekasi (diare) Adsorben tentu saja tidak berkhasiat meredakan penyakit, atau berdampak pada pengurangan asupan CRO. Obat ini tidak boleh dimakan bersamaan dengan obat lain. Bismuth subsaliglate bukan hanya berfungsi sebagai antisekretori, tetapi juga berkhasiat sebagai and-inflamasi dan antimikroba. Antiperistaltik yang banyak digunakan adalah loperamid, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter.


Pemilihan antibiotik selayaknya didasarkan pada tanda dan gejala klinis, jasad renik yang terdapat dalam spesimen, dan hasil uji sensitivitas. Pada kasus infeksi oleh E. coli, pemberian antibiotik justru sering memicu timbulnya hemolytic uretnic syndrome (HUS).


Penanganan keracunan akibat tertelan bahan kimia, atau jamur, bergantung pada jenis bahan kimia atau toksin yang bersangkutan. Pada umumnya, pendekatan terapi keracunan bersifat suportif. Contohnya, bilas lambung dilakukan bila zat beracun yang termakan diperkirakan masih berada dalam lambung. Antidotum sebagian kasus memang telah tersedia, seperti andhistamin untuk menangkal keracunan histamin, atau atropin untuk mengatasi keracunan jamur tertentu. Pada kasus keracunan dengan masa inkubasi pendek, kecuali termakan jamur atau zat kimia, tidak diperlukan pengobatan spesifik kecuali rehidrasi.


NUTRISI
Selama keracunan belum usai, pasien dianjurkan mengonsumsi air beras untuk membantu menenangkan peradangan, selain memperbanyak minum. Lactobacillus addophillus juga dianjurkan, terutama bagi mereka yang diresepkan antibiotik.


Meskipun masih sebatas penelitian laboratorium, berbagai zat gizi juga terbukti berkhasiat membantu penyembuhan. Penelitian terhadap tikus membuktikan bahwa pemberian vitamin A pada kasus salmonellosis berbasil memperpendek durasi penyakit. Selain itu, telah terbukti pula bahwa tikus yang tengah mengalami defisiensi vitamin A lebih peka terhadap infeksi salmonella ketimbang tikus normal (Hatchigian EA, 1989; dan Gabriel EP, dkk, 1990).


Kalsium fosfat, secara teoretis, membantu mencegah infeksi organisme tertentu dalam makanan. Kalsium fosfat berkhasiat protektif terhadap keracunan akibat Salmonella entendis.


Coumatin terbukti dapat menghentikan pertumbuhan E. coil, meskipun belum dapat diekstrapolasikan kepada manusia. Coumarin tersimpan rapi dalam berbagai jenis .buah dan sayuran. Oleh sebab itu, orang-orang yang kerap bepergian dianjurkan untuk mengonsumsi buah dan sayur (tentu saja setelah dicuci bersih, atau dimasak terlebih dahulu) agar terhindar dari infeksi E. coli (traveler's diarrhea).


Alpha-lipoic acid amat dianjurkan karena sifatnya sebagai antioksidan. Zat ini banyak terkandung dalam brokoli, bayam, dan daging sapi serta sangat berkhasiat dalam pengobatan keracunan oleh jamur Amanita. Dosis suplementasi yang dianjurkan adalah sebesar 50 mg (dimakan dua kali sehari), atau 100 mg sehari sekali makan.


Berbeda dengan zat gizi di atas, minyak ikan justru berpengaruh buruk. Fritsche KL, dkk (1997) membandingkan pengaruh konsumsi pangan yang kaya akan minyak kedelai dan minyak ikan pada tikus yang diinfeksi dengan bakteri Listeria. Hasilnya, jumlah Listeria dalam limpa tikus yang diberikan minyak ikan jauh lebih banyak ketimbang tikus yang diberikan minyak kedelai. N1eskipun belum dapat mengekstrapolasikan hasil kajiannya pada manusia, peneliti ini menganjurkan untuk tidak menyantap minyak ikan (atau yang mengandung minyak ikan) bagi mereka yang tengah terinfeksi oleh Listeria.



Pustaka - PENANGANAN KERACUNAN MAKANAN


Keracunan Makanan Buku Ajar Ilmu Gizi Oleh Dr. Arisman, MB, M.Kes


Gambar/Foto
blogdokter.net

0 comments:

Poskan Komentar