Selasa, 23 April 2013

Soeharto dan Sejarah G-30-S/PKI

Sejarah 30S/PKI, di Antara Kebenaran dan Pembenaran


Siapa yang tak kenal Soeharto ? Semua orang Indonesia pasti mengenalnya. Tapi apakah semua orang tahu siapa sebenarnya Soeharto ? Rasanya kok tidak. Tahu tentang Soeharto dari sisi yang satu lewat peristiwa tertentu, ternyata, belum cukup tanpa mengetahui Soeharto dari sisi dan peristiwa lain yang begitu berlapis dan banyak ini. Maka tak mengherankan bila belakangan ini banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah memang layak Soeharto dianggap sebagai seorang pahlawan pembangunan bangsa, atau justru malah sebaliknya ?


Menjelang hari yang 'dikeramatkan' 30 September pertanyaan tentang siapa sebenarnya Soeharto mulai juga bermunculan. Mendekati hari yang penuh dengan misteri sejarah ini, sejumlah media massa mulai menurunkan berbagai tulisan dalam upaya menelusuri jati diri' Soeharto sehubungan dengan peristiwa G-30-S. Berbagai analisis data jalan cerita setelah Soeharto lengser dari kekuasaan ternyata menjadi tak lagi sama seperti biasa walau berada dalam bingkai peristiwa sejarah yang serupa.


Apalagi setelah film G-30-S/PKI versi Ordenya Soeharto secara resmi dihentikan penayangannya. Hal ini membuat banyak orang kembali bertanya, memangnya ada yang salah dengan film itu. Bukankah film itu sebelumnya selalu dikesankan sebagai yang paling sahih dalam kaitan kebenaran sejarah ?


Berbicara soal film yang sangat luar biasa' mengultuskan pribadi Soeharto sebagai tokoh penyelamat bangsa ini, saya jadi ingat Mas Arifin C. Noor. Betapa kecewanya Mas Arifin sebagai sang sutradara ketika melihat hasil akhir keseluruhan film yang dibuatnya sendiri itu. Sebab, berdasarkan pengakuannya, sebagai sutradara film ternyata ia telah dipaksa tunduk pada seorang sutradara politik yang bertindak sebagai pengarah film sesungguhnya.


Dari peristiwa ini saya mencoba menganalogikan seluruh proses yang terjadi dalam pembuatan film tersebut dengan proses dan hasil akhir peristiwa G-30-S dan PKI di satu sisi dan Soeharto di sisi lain. Dalam hal ini, Kolonel Latief-Sjam dan Aidit bertindak selaku 'sutradara film' yang sengaja mengambil kudeta sebagai pilihan cerita, sementara sutradara -pengarah sesungguhnya- adalah Soeharto dan konco-konconya. Lalu, siapa pula yang bertindak sebagai 'produser' dari 'film' yang satu ini? Menurut berbagai nara sumber, CIAlah produser 'film' ini. Sementara Dewan Jenderal dan PKI menjadi pelakon utamanya.


Sejauh mana kebenaran analogi ini dihadapkan pada kebenaran sejarah? Jawaban pastinya jelas hanya dapat ditentukan oleh sang waktu. Sekalipun berbagai indikasi mengarah dan berpihak pada alur logika politik yang cenderung membenarkan analogi tersebut, waktu pulalah yang dapat memberikan seluruh kepastian yang diharapkan sebagai jawaban.


Mengapa penekanan pada peran sang waktu menjadi penting di sini, atau sengaja saya tempatkan pada posisi yang sangat penting? Tidak lain karena pada kenyataannya upaya untuk membeberkan suatu peristiwa sejarah, di maim para pelakunya masih sangat aktif dan berada dalam lingkaran tarik-menarik berbagai kepentingan demi memperebutkan kekuasaan dan pengaruh, ternyata menjadi faktor penghambat dari penyelenggaraan kebenaran sejarah itu sendiri.


Bahwasanya rezim Orde Baru terkesan sangat berani memastikan kebenaran sajarah tanpa mempedulikan peran sang waktu, masalahnya mungkin terletak pada keyakinan yang begitu tinggi bahwa kekuasaan seseorang dapat berlangsung selamanya dan abadi. Pelecehan pada sejarah dan makna sejarah bagi kehidupan sebuah bangsa memang sering terjadi pada saat kekuasaan yang melembaga pada diri seseorang dianggap sebagai segalanya. Bahkan, demi membangun sejarah bagi kepentingan kekuasaan, pihak pemegang kekuasaan acapkali rela mengorbankan ribuan jiwa manusia yang dijadikan tumbal bangunan sejarah itu sendiri. Kesan inilah yang terasa mencuat ke permukaan pada saat kita mengungkap kembali sejarah G-30-S setelah Soeharto lengser dari kekuasaannya.


Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bisa jadi antara kebenaran dan pembenaran masih terasa sulit dibedakan Tapi, yang pasti, satu hal yang terasa menjadi ciri "Orde"-nya Soeharto adalah kenyataan bahwa pembenaran sejarah telah digunakan sebagai senjata untuk membunuh kebenaran sejarah. Dengan cara dan perilaku yang demikian, wajarlah bila kemudian Soeharto harus berhadapan dengan kebenaran sejarah yang selama ini dilecehkannya.


Tuntutan untuk merevisi kembali sejarah Perang Kemerdekaan, Peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret, Peristiwa G-30-S, dan Lahirnya Supersemar merupakan bukti nyata bahwa berbagai upaya pembenaran sejarah yang dilakukan oleh rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto pada akhirnya mengalami kebangkrutan. Termasuk kebangkrutan Soeharto sebagai figur terhormat dalam setiap peristiwa sejarah selama 32 tahun ini.


Dalam kondisi psikologis masyarakat yang demikian ini, wajarlah bila kemudian banyak orang yang bertanya, siapa sebenarnya Soeharto ? Baik dalam peristiwa Perang Kemerdekaan, peristiwa Madiun, peristiwa Serangan Oemoem, peristiwa G-30-S, peristiwa Lahirnya Supersemar, maupun berbagai peristiwa lain, termasuk peristiwa terbangunnya dinasti dagang Keluarga Cendana.


Jawaban dari semua ini, bila tak mungkin diberikan sekarang, esok atau lusa pastilah tiba.Masalahnya, sampai kapan ?



Pustaka - Soeharto dan Sejarah G-30-S/PKI


Siapa sebenarnya Soeharto: fakta dan kesaksian para pelaku sejarah G-30-S/PKI diedit oleh Eros Djarot

0 comments:

Poskan Komentar