Jumat, 21 Desember 2012

Sejarah Hidroponik Beberapa Negara

Sejarah Perkembangan Hidropolik


1. Babylon, China, dan Mesir
Teknik hidroponik ini telah lama digunakan sejak kurun ke-16 Masehi. Taman Tergantung Babylon (The Hanging Garden of Babylon) dipercayai telah menggunakan hidroponik ini sebagai satu kaedah penanaman tanaman, kemudian diikuti oleh zaman akhir suku Aztez di Mexico (tempat masyarakat Indian menanam secara terapung di permukaan tasik yang cetek atau dapat dikatakan sebagai sistem rakit). Marco Polo dalam pengembaraannya mencatat bahwa terdapat penduduk di negara China yang menanam secara hidroponik. Dalam zaman kejayaan akhir Mesir juga terdapat aktivitas penanaman hidroponik.

2. Inggris
Pada 1699, Woodward, ilmuwan Inggris, telah menjalankan kajian menanam dengan menggunakan air sebagai medium, yakni melalui garam mineral yang dilarutkan ke dalam air dan dimasukkan sedikit tanah. Hasilnya, pokok tanaman tumbuh dengan baik dan tanah yang dicampur tersebut tidak berkurang. De Saussure (1804) lebih signifikan untuk dikatakan sebagai cikal bakal penelitian hidroponik yang menggunakan larutan nutrisi sebagai komposisi awal dengan berbagai macam komponen elemen mineral di dalam distilled water.

Pada awal 70-an, ilmuwan Inggris, Dr. Allen Cooper, telah berhasil memperkenalkan teknik Nutrient Film Technique (NFT), yang merupakan sistem hidroponik terbaik. Dalam teknik ini, larutan garam mineral dari tangki hidroponik dialirkan ke akar tanaman dalam palung, kemudian larutan tersebut dikembalikan semula ke dalam tangki. Teknik ini telah berkembang selaras dengan perkembangan teknologi digital yang dapat dioperasikan melalui sistem komputer.

3. Amerika
Pada 1930-an, tepatnya tahun 1933, ilmuwan Amerika, W.F. Gewricke, dari Pusat Penyelidikan Pertanian California, Universitas California, Amerika Serikat telah memperkenalkan kaidah ini secara komersial. Sejak itu, sistem hidroponik ini dikembangkan dan dikemas dengan berbagai teknik khas untuk tujuan komersial. Gewricke juga berhasil menanam tomat secara hidroponik. Tomat itu tumbuh mencapai 7,5 meter. Perkembangan teknologi greenhouse di negara barat juga telah membantu perkembangan hidroponik sebab aktivitas pertanian hidroponik dalam greenhouse dapat dijalankan sepanjang tahun.

Selanjutnya, sistem hidroponik berkembang ke arah komersial. Penemuan yang lantas dipatenkan itu mulai mendorong orang untuk mengembangkan sejumlah unit komersial. Setidaknya, tercatat areal hidroponik sampai 0,8 hektare (ha). Sayangnya, usaha itu terbukti tidak ekonomis.

Perkembangan hidroponik memperlihatkan titik cerah lagi usai Perang Dunia ke-2. Untuk kebutuhan sayuran para prajuritnya, Amerika Serikat (AS) membangun unit hidroponik di beberapa kepulauan Lautan Atlantik dan Pasifik. Salah satunya berlokasi di Chofu Jepang. Di atas lahan seluas 22 ha itu, diusahakan penanaman hidroponik. Media yang dipakai berupa kerikil halus, sedangkan suplai nutrisi berupa pupuk kimia dialirkan langsung ke masing-masing tanaman. Dengan cara tersebut, pasokan sayuran segar ke dapur tentara AS tetap kontinu dan tak perlu jauh-jauh mengimpor dari AS.

4. Kanada
Pembangunan unit hidroponik, yang benar-benar mempertimbangkan hitungan ekonomis, baru dilakukan pertengahan 1960-an. Sebuah industri rumah kaca yang berlokasi di British Columbia Kanada terpaksa beralih ke penanaman hidroponik. Pasalnya, penanaman yang didominasi tomat itu hancur gara-gara penyakit yang terbawa oleh tanah. Agar tetap selamat, mereka harus "mengeluarkan" tanaman dari tanah dan menggantinya ke sistem hidroponik. Tomat-tomat tersebut kemudian ditanam dalam wadah berisi pasir dan nutrisi yang disalurkan lewat penetesan. Pada dekade tersebut, perhatian orang terhadap hidroponik semakin intensif. Riset dan penelitian pun kian gencar.

Kegencaran itu didorong lagi oleh krisis minyak di Eropa (tahun 1970). Gara-gara kelangkaan minyak, biaya pemanasan dalam industri rumah kaca membengkak. Para pekebun dan peneliti terpaksa menyisihkan dana lebih besar untuk biaya yang satu ini. Salah satu cara untuk menghindari kerugian yang harus ditanggung adalah optimalisasi hasil panen. Akhirnya, mereka memilih penanaman hidroponik untuk mencapai tujuan tersebut.

5. Belanda
Pada dekade 1980-an merupakan momen penting bagi perkebunan hidroponik. Kejadiannya berawal ketika para peneliti Belanda menemukan kandungan metil bromid yang membahayakan di dalam air tanah. Ironisnya, kandungan yang bersumber dari pensteril tanah tersebut telah tersebar di berbagai daerah.

Pemerintah Belanda langsung melarang obat steril tersebut. Dampak pelarangan itu membuat para pekebun beralih ke hidroponik. Mereka banyak yang memilih rockwool sebagai media dan teknik penetesan dalam pemberian nutrisi. Kontan, kesuksesan Belanda dalam berhidroponik dibuntuti banyak negara. Hasilnya, luasan penanaman hidroponik pada 1989 langsung melonjak sampai 6.000 ha. Pupuslah anggapan orang bahwa hidroponik identik dengan "barang aneh" dan menyimpang. Tak hanya sayuran, akhirnya hidroponik juga merebak pada sejumlah komoditas lain, seperti buah dan bunga potong.

6. Spanyol
Melewati tahun 1990-an, ekspansi teknologi tersebut terus berlangsung, meski terkesan pelan. Negara-negara Eropa Utara, seperti Spanyol, benar-benar jatuh cinta kepada penanaman yang anti tanah ini. Teknologi penanaman di masing-masing negara terus berkembang dengan beragam "versi". Selain itu, mereka jugs melakukan penyempurnaan di bidang irigasi, alat-alat pengontrol, dan metode disinfeksi dari larutan nutrisi.

7. Malaysia
Akibat kegawatan ekonomi yang melanda Malaysia sejak pertengahan tahun 1997, berbagai usaha telah dijalankan oleh kerajaan agar rakyat menanam sayuran bagi keperluan sehari-hari serta meringankan belanja dapur.

Di Malaysia, pengeluaran hasil hidroponik secara komersial masih kecil. Belum ada lagi pemasok besar yang menguasai pasaran atau industri hidroponik ini. Produk hidroponik masih kurang atau tidak langsung tersedia di pasaran di beberapa tempat perbelanjaan.

Pamor hidroponik terus meroket. Kini, total arealnya di planet bumi sudah mencapai puluhan ribu ha. Dari luas tersebut, bisa dihasilkan sayuran segar sebanyak 4 juta ton per tahun. Itu belum termasuk dari sektor bunga potong, yang menyumbang 5 miliar dolar AS per tahun.

Pustaka-Sejarah Hidroponik Beberapa Negara


Menanam Hidroponik Oleh Siti Istiqomah

Foto/Gambar
grandmall10.wordpress

0 comments:

Poskan Komentar