Selasa, 27 November 2012

Pelaku Pasar Uang

Para Pelaku Pasar Uang


BANK KOMERSIAL Dalam buku teks perbankan, bank disebut-sebut berperan sebagai financial intermediary, yaitu pihak yang menampung dana dalam bentuk giro, tabungan, deposito, dan modal, kemudian menyalurkannya dalam bentuk kas, kredit, sekuritas, dan aset tetap. Peran ini dapat dilihat dari struktur neracanya sebagai berikut:







































AktivaPasiva
Kas (cash)Giro (demand deposit)
Kredit (loan)Tabungan (saving deposit)
Surat berharga (security)Deposito berjangka (time deposit)
Piutang lainnyaUtang lainnya
Aset tetap (fixed asset)Modal (equity)

Berdasarkan keterangan tersebut, sisi pasiva cenderung didominasi oleh tabungan dan deposito berjangka, sedangkan sisi aktiva didominasi oleh kredit.

Ada konvensi dalam pelaporan neraca bank bahwa urutan rekening-rekening yang dicatat dalam neracanya, dari atas ke bawah, baik di sisi aktiva maupun pasiva, selalu di mulai dari rekening aktiva dan pasiva yang paling likuid, dan diakhiri dengan rekening aktiva dan pasiva yang paling tidak likuid.

Apabila terlalu banyak pasiva likuid (giro, misalnya) yang digunakan untuk mendanai aktiva tidak likuid (seperti kredit jangka panjang), maka selain menghadapi masalah solvency, bank juga rentan terhadap risiko naiknya suku bunga. Aktiva jangka panjang dan tidak likuid sering menjanjikan return yang tinggi bagi bank. Sebaliknya, jika terlalu banyak pasiva tidak likuid (modal, misalnya) yang digunakan untuk mendanai aktiva sangat likuid (seperti kredit jangka pendek), maka bank rentan terhadap risiko turunnya suku bunga.

Jadi, jawaban atas pertanyaan mengapa bank komersial menjadi pelaku pasar uang adalah:
1. Untuk memelihara likuiditas serta kemampuannya dalam membayar kewajiban-kewajibannya.
2. Untuk menyalurkan/menempatkan dana (excess fund) sedemikian rapi sehingga menghasilkan laba maksimal, dengan mempertimbangkan likuiditas dan solvency-nya.
3. Untuk mendapatkan dana dengan biaya yang minimal.

BANK SENTRAL Bank Sentral adalah lembaga negara yang bertujuan mengelola jumlah uang beredar, mengatur level suku bunga, memelihara ketersediaan kredit, dan menjaga nilai tukar mata uang negara terhadap mata uang lainnya. Hampir semua negara mempunyai Bank Sentral, misalnya Federal Bank di AS, Bank of England di Inggris, Banque de France di Francis, Bank of Canada di Kanada, dan Bank Indonesia di Indonesia.

Bank Sentral mengeluarkan kebijakan moneter (monetary policy), bersama-sama dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, untuk mencapai empat pencapaian (yang dalam literatur ekonomi disebut sebagai tujuan makroekonomi—macroeconomic goals), yaitu:
1. pertumbuhan ekonomi rill yang tinggi,
2. stabilitas harga atau pengendalian inflasi,
3. keseimbangan neraca pembayaran, dan
4. pemanfaatan sumber Java ekonomi secara optimal.

Kebijakan moneter adalah keputusan-keputusan Bank Sentral untuk mengubah suku bunga domestik melalui peningkatan atau penurunan jumlah uang beredar dengan cara:

1. Mengadakan operasi pasar terbuka (open market operations), yaitu kegiatan transaksi pinjam¬meminjam dana dalam interbank market yang dilakukan oleh Bank Sentral dengan bank atau pihak lain dalam rangka mengurangi atau menambahkan likuiditas perbankan. Interbank market adalah suatu pasar di mana satu bank dengan bank lain dapat saling memperjualbelikan dana.
2. Mewajibkan setiap bank memelihara sejumlah minimum alat likuid yang dinyatakan dalam persentase tertentu dari jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun atau kewajiban lancar bank. Dalam literatur perbankan, ketentuan ini dinamakan reserve requirement atau likuiditas wajib minimum.
3. Mengubah tingkat diskonto (discount rate) atas surat-surat berharga yang dijaminkan oleh perbankan untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Sentral.

Kebijakan moneter dapat pula diarahkan untuk mengantisipasi atau menghadang serangan spekulan yang dapat mengguncang kestabilan pasar valuta asing pada khususnya dan makroekonomi pada umumnya. Misalnya, spekulan memprediksi bahwa dalam satu minggu kemudian (dari sekarang), nilai 12p terhadap $ akan merosot tajam. Berdasarkan prediksinya, spekulan kemudian meminjam Rp sekaligus mengonversinya menjadi $ pada kurs spot yang berlaku. Setelah satu minggu berlalu, ternyata, nilai Rp benar-benar merosot tajam terhadap $. Spekulan kemudian dapat menjual kembali (selling back) $ terhadap Rp, membayar pinjaman Rp berikut bunganya, dan mendapat laba dalam $. Sebelum speculative intact ini terjadi, Bank Sentral (Bank Indonesia) dapat mengantisipasinya dengan meninggikan suku bunga jangka pendek.

Memerhatikan bagaimana cara kebijakan moneter dijalankan, dapatlah disimpulkan bahwa Bank Sentral juga termasuk pelaku pasar uang. Tetapi, keterlibatannya bersifat mengondisikan perekonomian untuk mencapai macroeconomic goals.

PERUSAHAAN NON-FINANSIAL Manajer keuangan perusahaan non-finansial sekali waktu harus bertindak seperti layaknya fund manager di pasar uang. Hal ini dapat dimengerti karena di samping menghadapi masalah mengenai cara menjaga likuiditas atau arus kas masuk, perusahaan juga hawa memikirkan bagaimana setiap sen dana yang diinvestasikan dapat menghasilkan return yang maksimal. Secara umum, tujuan perusahaan non-finansial beroperasi di pasar uang adalah:

1. Untuk mendapatkan pinjaman
2. Untuk menghasilkan laba non-operasional (interest earning) dari penginvestasian dana di pasar uang.

INDIVIDU Siapa pun yang mempunyai instrumen-instrumen finansial seperti kartu ATM (Automatic Teller Machine), credit card, tabungan/deposito, obligasi, bahkan uang kas (currency), adalah partisipan pasar uang. Partisipasi tersebut bergantung pada tujuan mereka memegang instrumen-instrumen itu, yaitu:

1. Untuk transaksi jual-beli komoditas yang dibutuhkan,
2. Untuk berjaga-jaga terhadap peristiwa tidak terduga, dan
3. Untuk investasi spekulatif, yaitu mengharapkan laba dari adanya perubahan atau perbedaan suku bunga.

Terdapat dua kegiatan pokok yang merekonsiliasi empat pelaku pasar uang di pasar uang, yaitu: penginvestasian atau penempatan dana (investment) dan peminjaman dana (borrowing). Maka berdasarkan hal tersebut, pelaku pasar uang dapat digolongkan menjadi dua:

1. Kreditur (lender), yaitu pihak yang bersedia menempatkan/menginvestasikan dananya.
2. Debitur (borrower), yaitu pihak yang bersedia menerima penempatan dana kepadanya.

Pustaka-Pelaku Pasar Uang


Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Oleh Jose Rizal Joesoef

Foto/Gambar
investasi.kontan

0 comments:

Poskan Komentar