Minggu, 18 November 2012

MENGENAL PASAR UANG

Apa Itu Pasar Uang ?


Menurut literatur ekonomi moneter, sesuatu berperan sebagai uang apabila hal tersebut mengemban fungsi sebagai:
1. alat tukar (medium of exchange) dapat ditukar terhadap komoditas,
2. alat penyimpan nilai (store of value) dapat disimpan lama tanpa khawatir menjadi busuk atau berkarat, dan
3. unit penghitung (unit of accounting) dapat menimbang nilai sapi terhadap kambing, atau nilai sepeda motor terhadap mobil.

Sepanjang sejarah perekonomian hingga sekarang, banyak sesuatu yang dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut secara sekaligus. Satu di antaranya adalah emas (gold), dalam pengertian benda fisiknya secara utuh (full-bodied). Emas secara fisik dapat ditukar terhadap komoditas lain, tahan disimpan dalam waktu yang lama tanpa berkarat, dan dapat dipecah menjadi satuan-satuan kecil (misalnya, miligram, gram, dan ons) untuk menimbang komoditas lain. (Semua hasil tanaman dan hewan temak jelas tidak memenuhi tiga fungsi uang.)

Uang (money) adalah alat/instrumen yang dapat berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange), alat penyimpan nilai (store of value), dan unit penghitung (unit of accounting).

Namun demikian, sejarah mencatat bahwa terdapat beberapa masalah dalam perekonomian di mana emas berperan sebagai full-bodied money, meskipun emas dapat menjalankan ketiga fungsi uang secara sekaligus. Untuk membeli sepeda motor, misalnya, orang mungkin harus membawa satu ons emas di dalam sakunya; atau untuk membeli mobil, ia harus menjinjing satu, lima, bahkan sepuluh kilogram emas. Sehingga, emas tidak hanya menampakkan daya belinya, tetapi juga menonjolkan kebendaannya dan berat fisiknya yang cukup merepotkan jika harus dijinjing ke berbagai tempat.

Lebih dari itu, ketika emas menjadi sedemikian ampuh dalam memerankan tiga fungsi uang sekaligus, manusia cenderung berkompetisi untuk mencari, menumpuk, dan memuliakan emas, bukan berkompetisi untuk memproduksi dan menguangkan komoditas.2 Banyak orang menjadi kurang berorientasi pada penciptaan komoditas untuk "diuangkan", tetapi lebih berorientasi pada pencarian emas untuk "dibendakan".

Emas sebagai full-bodied money bertambah volumenya ketika ditemukan tambang emas baru, dan pertambahan emas akan berhenti sejak tambang tersebut habis tereksploitasi. Artinya, perekonomian akan berkembang selama masih tersedia emas untuk ditambang, dan akan berhenti apabila sudah ada emas yang dapat ditambang. Sangat riskan menggantungkan perekonomian pada ketersediaan emas, meskipun emas mampu menjalankan tiga fungsi uang sekaligus.

Setelah emas secara full-bodied tidak prospektif untuk didaulat sebagai uang, yang kemudian muncul adalah sistem representative full-bodied money, di mana kebendaan emas hanya diwakilkan. Artinya, memegang uang yang umumnya terbuat dari kertas atau logam berarti mempunyai, misalnya, satu gram emas yang tersimpan di dalam brankas Bank Sentral sebagai pihak yang berwenang atas ketersediaan uang itu. Siapa pun yang mempunyai uang dapat sewaktu-waktu mendatangi Bank Sentral untuk menukar uang dengan sejumlah emas.

Sistem representative full-bodied money lebih mengetatkan persyaratan uang. Sebagai alat, uang tidak saja harus mampu menjalankan sekaligus tiga fungsinya, tetapi juga harus menyandang lima sifat, yaitu :

1. Portability, mudah dibawa ke mana pun,
2. Durability, tahan lama dan tidak mudah rusak,
3. Divisibility, mempunyai satuan-satuan yang kecil,
4. Standardizability, mempunyai, misalnya, bentuk, ukuran, bahan, dan warna yang Baku, serta
5. Recognizability, dapat dikenali, baik dengan melihatnya, merabanya, atau menerawangnya.

Sayangnya, sistem representative full-bodied money belum dapat menyelesaikan masalah dalam sistem full-bodied money, yaitu produktivitas ekonomi masih sangat bergantung pada ketersediaan emas. (Kecuali jika Bank Sentral juga memonopoli penambangan, pengolahan, dan peredaran emas.) Secarik uang kertas atau mungkin sekeping uang logam yang convertible dengan sejumlah emas dalam brankas Bank Sentral belum mampu mendorong produktivitas ekonomi.

Oleh karna sesuatu yang berbasis emas baik secara full-bodied maupun representative dianggap layak menyandang status uang, maka perlu dicari penggantinya, yaitu alat yang dipercaya dapat berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange), penyimpan nilai (store of value), dan penghitung (unit of accounting. Alat pembayaran yang dimaksud harus bersifat portable, durable, divisible, standardizable, dan recognizable. Dari sini terjadi pengerucutan definisi uang menjadi mata uang atau tong kartal (currency). Untuk Indonesia, misalnya, uang kartalnya diberi nama rupiah (Rp), terbuat dari bahan kertas dan logam, berangka nominal Rp. 100.000 hingga Rp. 50, diterbitkan oleh pemerintah (e.g. Bank Indonesia).

Mata uang atau uang kartal (currency) adalah alat atau instrumen yang tercetak di bawah wewenang Bank Sentral, berfungsi sebagai alat tukar (medium exchange), alat penyimpan nilai (store of value), dan unit penghitung (unit of accounting); serta bersifat portable, durable, divisible, standardizable, dan recognizable. Umumnya, uang kartal tercetak dalam bentuk selembar kertas atau sekeping koin.

Sejak munculnya uang kartal, uang ditegaskan kembali sebagai instrumen pembayaran (a mean by which something is done), bukan instrumen per se. Uang kartal hanyalah selembar kertas atau sekeping koin dan dijamin oleh ketersediaan emas yang dikuasai Bank Sentral sebagai penerbit uang kartal. Nilai uang kartal yang sesungguhnya adalah kredibilitas Bank Sentral. Kredibilitas dalam konteks kebanksentralan bisa di mengerti sebagai sejauh mana komitment Bank Sentral dalam menjaga ketersediaan uang dan kestabilan harga dapat "dipegang" oleh masyarakat.

Dengan demikian, uang kartal dapat dipandang sebagai pernyataan bahwa Bank Sentral "berutang" sebesar angka nominal yang tertulis pada uang itu. Secarik kertas uang bernominal Rp. 50.000 dan bergambar I Gusti Ngurahrai adalah instrumen yang membuktikan bahwa Bank Sentral "berutang" Rp. 50.000 kepada pemegang uang tersebut. Dalam transaksi "utang-piutang" ini, yang menjadi kolateral bukan ketersediaan emas dalam brankas Bank Sentral, melainkan kredibilitas Bank Sentral dalam menjaga ketersediaan uang dan kestabilan harga. Oleh masyarakat, Bank Sentral dapat dianggap tidak credible dalam menjaga nilai rupiah, dan kemudian instrumen rupiah dilepas untuk ditukar dengan komoditas atau instrumen lainnya.

Melalui pasar uang (money market) yang di dalamnya terdapat masyarakat, bank-bank komersial, dan Bank Sentral sebagai regulatornya, instrumen uang kartal beranak-pinak menjadi beberapa instrumen seperti rekening giro (demand deposit), tabungan (saving deposit), dan deposito berjangka (time deposit). Tiga instrumen ini membuktikan bahwa bank komersial telah menerima penempatan (Dana dari pemiliknya; dan pemilik dana dapat sewaktu-waktu melikuidasinya. Oleh Bank Sentral, tiga instrumen ini berikut uang kartalnya didefinisikan sebagai jumlah uang beredar (money supply).

Dipandang dari tingkat likuiditasnya, obligasi pemerintah yaitu instrumen yang membuktikan bahwa pemerintah sedang meminjam sejumlah uang dari pemegang dokumen obligasi dapat pula digolongkan sebagai near-money, yaitu uang tetapi tidak persis uang. Sebab, tidaklah sulit "menguangkan" obligasi pemerintah kepada orang lain; meskipun pemerintah secara hukum tidak berkewajiban atas pembayaran sejumlah uang yang tercantum pada dokumen obligasi itu sebelum jatuh temponya.

Pasar uang (money market) adalah suatu mekanisme di mana dana dapat dipinjami diinvestasikan melalui instrumen-instrumen finansial jangka pendek (biasanya tidak lebih dari satu tahun).

Pustaka - MENGENAL PASAR UANG


Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Oleh Jose Rizal Joesoef

Foto/Gambar
republika

0 comments:

Poskan Komentar