Kamis, 20 September 2012

sejarah dan perkembangan semen

Sejarah Semen


Semen merupakan material perekat untuk kerikil (agregat kasar), pasir, batu bata, dan material sejenis lainnya. Material semen telah banyak digunakan sejak zaman Yunani, Romawi, dan Mesir kuno. Sebagian monumen dan bangunan peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih bisa kita saksikan, merupakan bukti bahwa material semen telah digunakan sejak zaman dulu. Pada masa itu, nenek moyang kita telah mampu merekatkan batu-batu raksasa hanya mengandalkan bahan perekat berupa gypsum, batu kapur, gamping, dan abu vulkanik atau pozzolan.

Dengan kemampuannya tersebut, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan di Indonesia, dan tembok besar di Cina (Great Wall). Selain itu, aspal juga kerap digunakan untuk merekatkan bahan bangunan seperti pada peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India, atau bangunan kuno di Pulau Buton.

Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Kedua bahan ini akan aktif setelah melalui proses pembakaran. Konon, campuran tersebut pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Campuran bahan perekat itu lantas dinamai pozzuolana.

Kata semen sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu caementum, yang artinya "memotong menjadi bagian-bagian kecil yang tidak beraturan". Meski sempat populer di zamannya, campuran semen ini tak berumur panjang, menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi. Hingga abad pertengahan (1100 — 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.


John Smeaton


Kemudian pada abad ke-18, John Smeaton, seorang insinyur asal Inggris menemukan kembali ramuan kuno yang berkhasiat luar biasa ini. la membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris. Namun, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan cikal Bakal semen ini. la adalah Joseph Aspdin, seorang insinyur berkebangsaan Inggris yang pertama kali mengurus hak paten untuk ramuan semen ini pada tahun 1824.


Joseph Aspdin


Hasil temuannya dinamakan semen portland. Dinamai "semen portland" karena warna hasil olahannya mirip dengan tanah liat yang sering dijumpai di Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dijumpai di toko-toko bangunan.


Isaac Johnson


Sebenarnya, ramuan Aspdin tidak jauh beda dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan Mama, yaitu batu kapur sebagai sumber kalsium karbonat dan tanah lempung yang banyak mengandung silika, alumunium oksida (alumina), serta oksida besi. Kemudian, tahun 1845 Isaac Johnson melakukan penelitian lanjutan mengenai semen dan hasilnya sangat berperan dalam pengembangan industri semen modern.

Pustaka - sejarah dan perkembangan semen


Semen; jenis & aplikasinya Oleh Syarif Hidayat

Foto/Gambar
moslemscientists
prabowoherry
botanbona.110mb
sos.la

0 comments:

Poskan Komentar