Minggu, 30 September 2012

Sejarah Bung Karno Sebagai "Pencipta" Pancasila"

Sejarah Bung Karno


Notonagoro adalah seorang Guru Besar terkemuka, eksponen UGM dan pendiri Fakultas Filsafat UGM sejak tahun 1967. Salah satu misi pokok didirikannya fakultas itu adalah melanjutkan kekaryaan ilmiah Notonagoro, yakni untuk mengembangkan Pancasila secara ilmiah dan filsafati. Sebagaimana sering diungkapkan oleh Dr. PJ Suwarno dan Drs. G. Moedjanto, MA dari Universitas Sanata Dharma, berbicara tentang Pancasila tidak akan terlepas dari segi sejarah secara khusus sejarah kelahiran Pancasila itu sendiri.

Berpuluh-puluh tahun bukan saja murid sekolah, melainkan seluruh rakyat Indonesia, mengenal tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Perayaan hari kebesaran itu bukan karena telanjur dicantumkannya hari itu sebagai hari besar kebangsaan oleh para pencetak kalender, akan tetapi bersumber pada fakta sejarah. Selanjutnya fakta itu dikuatkan oleh serangkaian analisis ilmiah filsafati Notonagoro, antara lain dengan menggunakan data mentah notulensi Sidang BPUPKI/PPKI. Salah satu kesimpulannya: Soekarno adalah pencipta Pancasila.

Maka tidak mengherankan bila dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Soekarno pada tanggal 19 September 1951 oleh UGM, Notonagoro dipercaya sebagai wakil Senat UGM untuk melakukan tugas promotor dalam promosi honoris causa tersebut. Berkatalah Notonagoro, "Paduka Yang Mulia adalah pencipta Pancasila... Paduka Yang Mulia adalah yang untuk pertama kalinya melahirkan dan mengusulkan Pancasila sebagai dasar filsafat negara pada hari tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan..."

Hanya oleh kerendahan hati saja kemudian Soekarno menolak disebut sebagai pencipta, melainkan sekadar "penggali" Pancasila. Namun pada pertengahan tahun 1970-an, senyampang bergulirnya arus politis de-Soekarnoisasi secara gencar telah mengalirkan arus tersebut ke sekian kanal, termasuk kanal ilmiah.

Seorang sejarawan dari ABRI, Nugroho Notosusanto melakukan penelitian ilmiah kontroversial yang membuat kesimpulan bahwa penggali Pancasila bukan cuma Soekarno, melainkan juga Mohammad Yamin dan Soepomo.


Sejak saat itulah dalam Penataran P4 dan buku-buku sejarah kebangsaan dimasukkan "teori" baru bahwa tanggal 1 Juni bukanlah hari lahirnya Pancasila.

Salah satu isi penelitian Nugroho Notosusanto adalah membedakan Pancasila 1 Juni 1945 dengan "Pancasila" Yamin 29 Juni 1945, demikian juga dengan Pancasila 18 Agustus 1945 yang termaktub dalam Pembukuan UUD 1945. Nugroho berusaha memisahkan Pancasila Soekarno dengan Pancasila di dalam Pembukaan UUD 1945. Bahkan ia menyatakan bahwa sila kedua Pancasila gagasan Bung Karno (Peri Kemanusiaan/Internationalisme), mudah diinterpretasikan sebagai Internasionalismenya kaum komunis.

Untunglah waktu itu masih cukup banyak founding fathers negara yang masih hidup seperti Bung Hatta, Ir. Rooseno, Baswedan, KH Masjkur, Achmad Subardjo, AA Maramis, Sayuti Melik dan Sunario. Para bapak negara bangsa itu semuanya menyatakan bahwa Pancasila itu dari Bung Karno.

Bahkan Bung Hatta yang sejak zaman pergerakan sampai zaman Indonesia merdeka sering kali bertentangan dan banyak dikecewakan oleh Bung Karno, tetap berpegang pada fakta sejarah. Dalam masa kekuasaan rezim Orba yang anti-Soekarnoisme, sebuah surat wasiat kepada Guntur Soekarno Putra menyangkut lahirnya Pancasila memberi kesaksian bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila.

Adapun Nugroho Notosusanto berpegang pada apa yang dianggapnya fakta sejarah pula, yakni pidato lisan dan lampiran tertulis Moh Yamin di depan BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Pidato itu termuat dalam buku Moh - Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, jilid I yang isinya berasal dari risalah rapat-rapat BPUPKI/PPKI di tahun 1945. Oleh Nugroho buku itu dianggap sebagai sumber primer, dan itulah memang sumber tunggal dalam penelitiannya.

Tidak satupun koleganya kaum sejarawan mendukung kesimpulan ilmiah Nugroho itu. Sejumlah sejarawan semisal Abdurrachman Surjomihardjo, Kuntowijoyo, Onghokham, G. Moedjanto dan R. Nalenan justru mengkritik baik eksplisit maupun implisit, antara lain bahwa Nugroho tidak melakukan kritik sumber.

Tatkala berceramah di Makasar Bung Hatta dikritik oleh mahasiswa karena menyatakan Pancasila itu dari Soekarno dan mahasiswa itu menyebut Yamin. Hatta pun bertanya dari mana mahasiswa tahu? Dijawab oleh sang mahasiswa, "Dari buku Yamin", Hatta pun menyatakan, "Buku itu tak benar!"

Bung Hatta hadir ketika Yamin berpidato 29 Mei 1945 dalam sidang BPUPKI sehingga tahu betul bahwa isi pidato itu lain dari yang di muat dalam buku Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 itu.

Sewaktu Sunario bertanya tentang pidato Yamin yang dicantumkan dalam bukunya tersebut tak urung Bung Hata menukas, "Tidak benar; Bung Yamin agak licik; sebenarnya pidato itu adalah yang diucapkan dalam panitia kecil." (Hatta, et.aL, 1977, 75).

Panitia Kecil adalah panitia yang dibentuk oleh BPUPKI selepas Bung Karno berpidato 1 Juni 1945, sebelum dibentuk lagi Panitia Sembilan. Sebagaimana dijelaskan Bung Hatta, "Rapat Panitia Sembilan dimulai kira-kira pertengahan Juni. Selesai diskusi tentang itu Bung Karno meminta Mr. Muhammad Yamin merumuskan hasil pertukaran pikiran dalam Panitia Sembilan. Maka sebagai hasilnya terdapat rumusan pendek. Setelah diubah sana-sini terdapatlah piagam yang kemudian disebut Piagam Jakarta. Tetapi Bung Karno menganggap rumusan itu terlalu pendek untuk dijadikan preambule undang-undang dasar. Maunya dalam preambule itu terdapat gambar cita-cita dan sejarah perjuangan kita. Maka Mr. Muhammad Yamin membuat suatu preambule baru, yang dianggap oleh Panitia terlalu panjang dan tidak tepat untuk dijadikan preambule. Dan itulah barangkali yang dimasukkan oleh Mr Muhammad Yamin dalam buku Naskah Persiapan UUD 1945 sebagai pidatonya sendiri" (Sejarah Lahirnya UUD 1945 & Pancasila, 1984).

Kemudian datanglah saat ketika seorang pakar dari Universitas Indonesia, Ananda B. Kusuma, menemukan Pringgodigdo Archief yang semula berada di Belanda dan tersimpan di Puro Mangkunegaran Surakarta. Lewat menantu Yamin, GRA Satuti Yamin yang adalah puteri keraton tersebtit, dosen UI itu mentranskripsikan dokumen yang amat berharga tadi. Beberapa petikannya adalah sebagai berikut:

(i) kalimat, "Saya meminta perhatian, bahwa dalam rapat tanggal 29 Mei dulu saya telah melampirkan suatu rancangan UUD Republik Indonesia" yang diucapkan Mohammad Yamin dalam sidang BPUPKI tanggal 10 Juli 1945 (Naskah Persiapan UUD 1945-nya Yamin) ternyata tidak ada dalam Pringgodigdo Archief yang menghimpun notulen ash sidang tersebut. Dipastikan bahwa dalam pidatonya 29 Mei 1945 itu Yamin tidak melampirkan Rancangan UUD RI sebagaimana tercantum dalam bukunya di halaman 721 sampai 728.

(ii) Pada sidang BPUPKI hanya Ir. Soekarno yang mengemukakan Dasar Negara yang bersila lima.

(iii) Pringgodigdo Archief memuat catatan berapa lama masing-masing anggota berpidato pada 29 Mei 1945, yakni MRM. Yamin (20 menit), Tn. Soemitro (5 menit), Tn. Margono (20 menit), Tn. Sanusi (45 menit), Tn. Sosro diningrat (5 menit), Tn. Wiranatakusumah (15 menit).

Jumlah waktu yang diperlukan bagi pembicara adalah 110 menit dari seluruh waktu yang disediakan selama 130 menit. Ternyata pada dokumen Pringgodigdo Archief itu sudah "tercemar" dengan adanya tambahan angka 1 pada pidato M Yamin sehingga menjadi 120 menit. Indikasinya ialah jika dicermati benar maka pada angka 1 tambahan itu, tertera "titik" di atasnya (i), padahal keseluruhan angka 1 pada dokumen tersebut tidak ada memakai "titik" di atasnya.


Belum diketahui pasti siapa yang mencemari dokumen historis tersebut dan dengan maksud apa. Ananda B. Kusuma menyatakan, bila dilakukan kritik sejarah terhadap dokumen ini adalah tidak mungkin M. Yamin memperoleh alokasi waktu 120 menit, karena menurut risalah, sidang berlangsung 130 menit sehingga sulit diterima akal bahwa lima pembicara lainnya hanya memakan waktu 10 menit!

Dengan demikan, menurut B. Kusuma perkiraan Nugroho bahwa Mohammad Yamin Naskah Persiapan UUD 1945 kata demi kata (woordelijk) sama dengan notulistischerslag sidang BPUPKI ternyata tidak benar. Secara lebih simple, G. Moedjanto menyatakan keheranannya, jika benar Yamin sudah berpidato lebih dahulu dari Bung Karno yang mirip Pancasila, kenapa nama "Pancasila" diberikan kepada Bung Karno dan tidak untuk menamakan pidatonya sendiri? Moedjanto juga mencatat kejanggalan pidato Yamin 29 Mei itu, yakni pada alinea terakhir berbunyi: "Dua hari yang lampau tuan Ketua memberi kesempatan kepada kita sekalian juga boleh mengeluarkan perasaan". Dua hari yang lampau berarti tanggal 27 Mei; padahal BPUPKI sendiri baru dibentuk 28 Mei 1945.

Maka itu gugur pulalah tesis Nugroho Notosusanto yang memperdebatkan antara Pancasila dalam 1 Juni 1945 dengan Pancasila yang temaktub dalam Pembukaan UUD 1945. UGM dalam promosi Doktor Honoris Causa kepada Bung Karno tahun 1951 itu menyatakan, "Maka oleh karena itu Pancasila yang tercantum dalam masing-masing Undang-Undang Dasar kita dalam isi-artinya yang pokok adalah Pancasila ciptaan Paduka Yang Mulia. Tidak kita kurangkan, bahkan kita hargai jasa para Pembentuk Undang-Undang Dasar masing-masing".

Maksud Notonagoro selaku penyusun pidato promosi itu yakni dalam ketiga konstitusi yakni UUD 1945, UUDS, UUD RIS, yang dalam Pembukaan UUD-nya menyebutkan Pancasila adalah keseluruhannya Pancasila yang "diciptakan" Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI.

Sebelum terbitnya publikasi penelitian Nugroho tahun 1981 yang oleh sementara kalangan dianggap tak lebih sebuah pamflet politik itu, jika dibaca buku-buku karangan tokoh dan ilmuwan akan jelas bahwa Pancasila adalah hasil pikiran Soekarno. Tak ada satu pun buku yang menyebut peranan Yamin, Soepomo dan entah siapa lagi selain Bung Karno.

Soediman Kartohadiprodjo (Universitas Parahyangan Bandung) menyatakan: "Mengenai ini, pertama-tama ingin kita kemukakan bahwa kalau kita (bangsa Indonesia) hingga kini berbicara tentang Pancasila maka yang kita maksudkan adalah tidak lain daripada pidato Ir. Soekarno yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945, dan bukan Pancha Sila dari almarhum Nehru atau lima pokok yang disebut oleh almarhum Moh. Yamin dalam pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945." (Kartohadiprojo, 1968).

Dari Moh Yamin sendiri sesungguhnya berulang kali menyatakan dalam bukunya yang tidak dibaca oleh Nugroho Notosusanto bahwa penggali Pancasila itu Bung Karno. Salah satunya ialah pidatonya tanggal 5 Januari 1958 dalam peringatan kenegaraan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1985. "Untuk penjelasan ingatlah beberapa tanggapan sebagai pegangan sejarah: 1 Juni 1945 diucapkan pidato yang pertama tentang Pancasila..., tanggal 22 Juni 1945 segala ajaran itu dirumuskan di dalam satu naskah politik yang bernama Piagam Jakarta ... dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disiarkanlah Konstitusi Republik Indonesia, sehari sesudah permakluman kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konstitusi itu pada bagian pembukaan atau Mukadimahnya dituliskan hitam di atas putih dengan resmi ajaran filsafat pancasila...," demikian Yamin.

Buku otobiografi Soekarno sendiri yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dalam satu bab penuh (yakni Bab 25 "Permulaan dari pada Akhirnya") menerangkan dengan gamblang bagaimana Bung Karno gelisah dan mengunjukkan ke hadapan Allah untuk pidatonya 1 Juni 1945 itu. "Di pulau Bunga yang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenungkan di bawah pohon kayu. Ketika itu datang ilham yang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah," demikian kata Bung Karno.

Pustaka - Sejarah Bung Karno Sebagai "Pencipta" Pancasila"


Kontroversi dan rekonstruksi sejarah Oleh Slamet Sutrisno

Foto / Gambar
caritauaja

dedibnj.blogspot

pariwisatasibolga

0 comments:

Poskan Komentar