Rabu, 05 September 2012

Minyak Biji Kapuk

Minyak Yang Terkandung di Biji Kapuk


KAPUK randu atau Ceiba pertandra gaertn merupakan tanaman yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Indonesia. Hampir semua lapisan masyarakat pernah menggunakan basil komoditas perkebunan ini, dalam bentuk kasur dan bantal. Sayang, keberadaan kapuk randu mulai tergusur, seiring ditemukannya bahan-bahan sintetis untuk pembuat kasur dan bantal.

Selain serat kapuk, Ceiba pertandra gaertn juga menghasilkan biji kapuk atau klenteng. Khusus biji kapuk dapat diolah menjadi beberapa komoditas turunan, salah satunya adalah minyak goreng. Sebagai bahan minyak goreng, biji kapuk memiliki rendemen antara 11%-13%.

Dibanding kelapa sawit, minyak goreng dari klenteng memiliki beberapa kelebihan, antara    tidak mengandung kolesterol, tidak berbau dan berasa tawar dengan warna kekuningan. Selain itu, mengandung omega 3, 6, dan 9; kandungan kadar asam lemaknya sekitar 5% atau sama dengan minyak biji kapas, dan persentase asam linoleat lebih rendah.

Cara pembuatan minyak goreng dari biji kapuk bisa relatif sederhana. Biji kapuk dipres hingga menghasilkan Crude Klenteng Oil (CKO). Untuk selanjutnya dilakukan proses penyaringan, untuk memisahkan minyak biji klenteng dad sisa-sisa material biji kapuk yang tertinggal.

Bungkil hasil pengepresan bisa digunakan sebagai bahan pupuk, karena kandungan nitrogennya mencapai 4%-5%, dan kadar asam fosfatnya 2%, bagus digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak. Pada bungkil ini terdapat kandungan: 13% air, 6% abu, 20% serat kasar, 5% lemak, 29% protein dan 20% karbohidrat.

Saat ini, pengolahan biji kapuk menjadi minyak goreng dan produk turunannya belum banyak dilakukan. Di Jawa Tengah misalnya, pengolahan klenteng baru dilakukan oleh CV Rojokoyo Agribisnis di Pati, bekerjasama dengan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

Tanaman kapuk randu tumbuh hingga ketinggiannya 60-70 m. Pohon ini banyak ditanam di Asia, terutama di pulau Jawa (Indonesia), Malaysia, Filipina, dan juga terdapat di Amerika Selatan. Umumnya,  - tumbuh di kawasan pinggir pantai serta pada lahan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (dpi). Kapuk randu mulai berbunga dan berbuah pada usia 5-6 tahun, dan baru bisa dipanen setelah biji-biji kapuk berwarna kuning kelabu.



Indonesia pernah menjadi penghasil kapuk terbesar di dunia (sekitar 80%), dan sekitar 60% dari jumlah produksi saat itu berasal dari Pulau Jawa. Sejumlah data menyebutkan, tahun 1936-1937 ekspor kapuk Indonesia

mencapai 28,4 juta kg/tahun. Namun angka itu mengalami penurunan, karena tidak dikelola secara baik. Pada 2002 nilai ekspor kapuk Indonesia hanya USS1 juta per tahun, dan naik menjadi US$1,3 juta pada 2003. Beberapa negara tujuan utama ekspor kapuk pada tahun 2003 adalah Singapura (US$237.851), Jepang (US$194.253) Belanda (USS142.930), Cina (US$141.964) dan Amerika Serikat (US$119.615).  M. BUDIONO

Pustaka - Minyak Biji Kapuk


Media Komunikasi Petani " TANI MERDEKA " Edisi 16 TH IV Juni 2011

0 comments:

Poskan Komentar