Selasa, 18 September 2012

Makrifat-Makrifat Awam

Makrifat Awam


(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung)ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam den gan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? katakanlah:"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (QS Al-Zumar [391: 9)

Entah sudah berapa banyak kaum filsuf, ilmuwan, dan agamawan yang pernah dimiliki oleh planet bumi ini. Entah sudah berapa ribu atau juta gagasan-gagasan yang lahir dari mereka. Dan entah sudah berwujud yang bagaimana perbedaan, perdebatan, dan pergumulan gagasan yang datang dari mereka, dan telah mewarnai kehidupan manusia di planet ini. Namun, satu hal yang pasti tidak menimbulkan perdebatan, protes, kritik, perbedaan, pergumulan, atau bahkan peperangan dari tiga golongan tersebut filsuf, ilmuwan, dan agamawan adalah pandangan mereka bahwa pengetahuan, hikmah, atau ilmu itu sangat penting bagi manusia dan kemanusiaan; bahwa tidak sepantasnya manusia berada dalam kebodohan, keawaman, atau kejahilan. Dan bahwa hanyalah pengetahuan, ilmu, atau hikmah yang dapat mengantarkan manusia pada kesuksesan dan keberhasilan.

Bisa katakan bahwa pentingnya pengetahuan, ilmu, dan hikmah itu sudah tidak perlu lagi untuk dibahas. Rak-rak perpustakaan sudah penuh dengan pembahasan yang seperti itu. Tak kurang, setiap kurun waktu lahir penyeru-penyeru agar orang-orang menuntut ilmu, mengembangkannya,dan menyebarkannya.Tak kurang pula, Islam telah memerintahkan umatnya dengan perintah seperti ini; Rasulullah memerintahkan pengikut-pengikutnya agar menuntut ilmu. Dan Adam a.s. pertama-tama diajari Allah dengan ilmu sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda- benda)seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(QS Al-Baqarah [2]: 31)

Barang siapa memiliki hikmah, atau dikaruniai Allah Swt. dengan hikmah, berarti ia telah mendapatkan karunia yang banyak begitulah kata ayat berikut ini:

Allah menganugerahkan al-hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al-Quran dan Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al-Baqarah [21: 269)

Dan tidak patut bagi seluruh kaum Mukmin untuk berjihad tanpa menyisakan sebagian dari menuntut ilmu: Tidak sepatutnya bagi Mukminin mu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka iyu dapat menjaga dirinya. (QS Al-Taubah [9]: 122)

Dan hanya orang-orang yang berilmu yang dapat memiliki iman dan keyakinan mutlak kepada Allah Swt., melalui pancaran hati dan akal: Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?" Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat,atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (QS Al-Ra'd (13): 16)

Maka bagaimana mungkin Anda akan dapat mengambil analogi-analogi, kias-kias,atau perumpamaan-perumpamaan yang mengandung hikmah dan kearifan,ketika Anda tidak memiliki pengetahuan atau ilmu?

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS Al-Ankabut [29]: 43)

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguh-nya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-An'âm [6]: 119)

Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?"Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al- An'Am [6]: 144)

Dan masih banyak sekali perhatian Al-Quran terhadap pentingnya ilmu, pengetahuan, dan hikmah, serta pentingnya manusia untuk mendapatkannya. Yang tidak banyak disadari oleh orang adalah kenyataan bahwa betapapun kaum filsuf, ilmuwan, dan agamawan telah menyeru agar manusia mencari dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah, tetapi ternyata orang-orang yang tidak berilmu, berpengetahuan, dan memiliki hikmah itu tetaplah ada. Tidak hanya ada, tetapi jumlahnya juga banyak. Apa penyebab masalah ini? Apakah seruan agar manusia mencari, menuntut, dan mendapatkan ilmu, pengetahuan, dan hikmah masih kurang? Atau, ada penyebab yang datang dari dalam din i orang-orang yang tidak mencari, menuntut, dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, atau hikmah tersebut?

Jika diandaikan bahwa penyebabnya adalah kurangnya seruan terhadap pentingnya mencari, menuntut, dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah, tampaknya ini merupakan pengandaian yang mustahil. Apabila seruan itu berhenti ketika nyawa manusia yang menyerunya telah dicabut dari badan, seruan itu diganti dengan buku, kitab, atau tulisan-tulisan yang umurnya bisa lebih panjang dari umur manusia. Dengan hanya membaca, mencermati, dan merenungkan ayat-ayat Al-Quran, itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa seruan tersebut tidak pernah berkurang.

Dengan demikian, satu-satunya penyebab pastilah datang dari orang-orang yang enggan, sungkan, malas, atau tidak mau menuntut, mencari,dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah tersebut. Perwujudannya pun macam-macam, di antaranya:

• Benar-benar tidak mau mencari, menuntut, dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah.
• Mencari, menuntut, dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah dengan setengah-setengah.
• Mencari, menuntut, dan mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan hikmah, tetapi dengan cara, proses, niat, dan subtansi yang salah.

Pada kenyataannya bahwa ketika Anda benar-benar mau melihat, merenungkan, dan mencermati fakta-fakta kehidupan tentang kurangnya perhatian, minat, dan dorongan orang terhadap pentingnya pengetahuan, ilmu, dan hikmah, maka hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pandangan-pandangan hidup mereka, baik pandangan hidup tentang dunia maupun akhirat.

Kita menemukan kenyataan bahwa perhatian terhadap kondisi-kondisi keawaman, kebodohan, dan kejahilan terhadap pengetahuan, ilmu, dan hikmah masih sangat minim. Dan lebih minim lagi adalah perhatian yang diberikan kepada akibat-akibat dari adanya kebodohan, keawaman, dan kejahilan terhadap pengetahuan, ilmu, dan hikmah, khususnya akibat terhadap mental, religiositas, dan spiritualitas. Padahal, seandainya saja porsi yang diberikan untuk memerhatikan masalah ini cukup besar, kita akan menyadari bahwa problem-problem kehidupan hampir seluruhnya muncul karena keawaman, kebodohan, atau kejahilan ini.

Pandangan yang pesimis terhadap dunia lahir karena adanya keawaman, kebodohan, dan kejahilan ini, sedangkan kita mengetahui bahwa pesimisme inilah yang melahirkan falsafah keberuntungan (kebetulan), pasrah yang tidak pada tempatnya, menyerah terhadap takdir (dan juga kekeliruan dalam memahami takdir Allah Swt.), tidak siap menghadapi dan menerima kegagalan, dan tidak siap pula secara mental dan raiyyah untuk menjadi orang yang sukses dan kaya.

Oleh karena pentingnya pokok masalah ini, kita mengajak Anda untuk memakrifati kehidupan orang-orang awam, orang-orang bodoh, atau orang-orang yang jahil ini, dengan harapan bahwa kita akan terlepas dari keadaan yang awam, bodoh, dan jahil di satu sisi, dan terlepas pula dari pengaruh-pengaruh yang disebabkan oleh keawaman, kebodohan, dan kejahilan di sisi lain. Suatu keadaan ketika orang tidak berani menatap hidup, tetapi tidak pula berani menghadapi kematian (keadaan tidak hidup dan tidak pula mati) adalah keadaan yang dilahirkan oleh sebab keawaman, kebodohan, atau kejahilan ini.

Pustaka - Makrifat-Makrifat Awam


Berani Hidup Siap Mati Oleh Muhammad Muhyidin

0 comments:

Poskan Komentar